Kamis, 15 Juli 2010

jika kita terlahir tak menyatu




: Pura babbara' sompekku,pura tangkisi' golikku,
ulebbirenni tellenngé Nato'walié



Sayang..jika kita terlahir bukan sebagai jodoh aku ingin kau tetap mengenalku selayaknya kau mengenalku sebelum kau mencintaiku; Sayang..jika kita terlahir bukan sebagai jodoh aku ingin kau tetap menolongku saat aku kesusahan selayaknya kau menolongku sewaktu pertama kita bertemu; Sayang.jika kita terlahir bukan sebagai jodoh aku ingin kau tetap merindukan ku seperti kau merindukan ku saat kita masih seorang sahabat; Karena..Aku tidak akan pernah melupakanmu, Karena..Aku akan tetap membutuhkanmu di hidupku.. Karena..Aku yakin akan selalu ada sepenggal rindu untukmu; Lokasi: membuka pintu di padang pasir

------

tahukah kamu aku selalu meneteskan air mataku hanya untukmu, dalam langkahku yang tak berarti, dalam angkuhku, semua menjadi satu, aku selalu merindukanmu; aku memohon dan memohon untuk yang kesekian kalinya izinkanlah aku berenang di telaga matamu yang bening, dan apabila itu hanya mimpi, kumohon aku tidak pernah terjaga untuk selamanya, aku ingin biarlah selamanya dalam mimpi;


tahukah kamu dalam mimpi dan setiap mimpiku kamu tak merasakan hujan,aku akan meringgomi, kamu tak merasakan dingin,aku akan menghangatkan; kukenang selalu dari mu adalah saat ku terpaku merasakan setiap nafas hangatmu dalam pelukan ku dan desah nafas satu demi satu lukisan mutiara di dasar samudera; dalam kehangatan indahnya harapan tentangmu; bayu membuai malam isi hatiku menyatu bintang menoreh warna >> sabit mu melantun dalam tidur selimuti awan kelabu yang tebal >> kubassuh kepedihan dan penyesalan menatap dalam langit bidadari ku, izinkanlah aku bersamamu selalu; dalam bisu aku membeku badai menyapu air mataku;

ketika fajar menyingsing, dan suara ayam melantunkan lagu selamat datang pagi yang indah nan ceria, saat itu mataku terbuka dan aku kembali terpekur dalam wajahmu yang semalaman dalam mimpiku tersenyum penuh cinta dan melantunkan lagu lagu kasih untukku, mengapa aku harus bangun dari mimpi indahku, tahukah kamu sayang: aku selalu merindukan malam, karena aku akan terbang dalam mimpi bersamamu, aku merindukanmu dalam mimpi;

dalam langkah yang terseok menanti matahari sore, dalam sinar yang tenggelam membuang jendela hati dan jendela bumi; Cinta = kasihkah :Cinta = rindukah: Cinta = memberikah: Cinta = kebenCian: Cinta = kekuatan))) mungkin berarti saling memberi kekuatan dalam kebersamaan; tahukah setiap kebencian yang berlebihan adalah makna dari cinta; dan cinta yang berlebihan membuat suatu kebencian; aku baru kembali dari perjalanan panjang, menyeberangi padang pasir yang terjal dan siap membunuhku, menyengat seluruh sendi sendi dan aku perlahan akan mati dalam panas dan dahaga, tetapi kau selamatkan aku dengan sejuknya angin yang menghembus lewati pintu yang kau buka;


Pura babbara' sompekku,pura tangkisi' golikku, ulebbirenni tellenngé Nato'walié. Layarku sudah terkembang, kemudiku sudah terpasang, lebih baik tenggelam daripada kembali ;


apabila waktu semakin memudarkan hatimu, aku akan menerima itu, tapi aku masih ingat dan menjadi pegangan untukku' kau mencintaiku, walaupun langit ini runtuh aku ingin kau tetap merindukan ku seperti kau merindukan ku, saat kita masih seorang sahabat; dalam setiap langkah hampaku, aku masih dapat memacu itu semua bukan kekuatanku, tetapi karena kekuatan Tuhan dan kenangan saat kau berikan pintu itu padaku; dan pintu itu sekarang selalu kujaga dalam jiwa yang tak bermakna;

dear, semakin aku menyadari - bahwa ruang dan waktu akan bicara terhadap cinta kita, dalam setiap nafasku kita tetap menyatu, karena setiap ada waktu kita pasti bertemu, walaupun itu hanya dalam mimpi,petang kian membentang dan kelam menyetubuhi malam, aku berdiri didepan altar dengan gemerlap lampu serta lalu lalang keramaian, tetapi aku terasa asing menyendiri, sayang dalam hujan apakah kau merasakan dingin yang mencekam, biarlah aku yang menikmatinya, karena aku selalu meringgomimu, disini aku terpekur dalam hujan mengingat kita pernah tertawa dalam hujan; sungguh dalam mhujan ini aku merindukanmu;

kembali seperti kemarin dan hari ini kurenggut sisa ajal ku untuk menyusuri pematang luka lama, dan mendung mengharap gerimis menyiram, apakah engkau mengetahui sayang aku selalu menyiapkan telaga bening, tempat kita menikmati setiap canda dan tawa bersama memberangus sukma dan membuai raga;aku ingin kembali kita mengukir kata dibongkah pokok kayu yang tegar dan tidak tergoyah;

Aku tahu sisa kenangan ku tersimpan tak tersia-sia ? aku telah mendengarkan banyak lagu yang dinyanyikan dengan berbagai aliran, tetapi tidak membuat saya terhanyut dalam menikmatinya, apakah aku masih dapat mendengarkan suaramu walaupun sekejap saja, aku sungguh merindukanmu; akhirnya aku tahu sekarang pelangi di musim hujan adalah jembatan malaikat untuk turun kebumi, mereka akan memberikan sesuatu untukku tentang berita keadaanmu sekarang, aku sungguh mengkhawatirkan dirimu, kumohon engkau merasakan kekhawatiranku;

mendung telah sirna, langit terlihat cerah , bintang bintang mulai bertaburan di angkasa raya, aku melihat semuanya disana ; ternyata itu adalah wajahmu dengan penuh senyuman dan cinta, malam ini kembali kita akan bertemu dalam mimpi; Tuhan, aku tahu semua ini untukku, aku akan tetap kuat itu semua berkat kekuatan Mu, sayang kumohon kau tahu biarlah Tuhan yang mengatur semuanya, karena banyak rahasia yang tidak kita ketahui dibalik itu semua, Dunia terus berputar, aku terus melangkahi waktu melewati siang dan berpanggut malam, karena kita akan bersama kembali ;

petang kian menjelang, aku selalu dalam penantian yang tak bertuan, langit mengukir kelam menabur benih dengan bulir bulir saling menyapa menganga jalan demi percikan ragam genderang, akhirnya kau bicara dalam bisu mu, aku tetap diam dalam tangis ku, aku semakin membeku memeluk kelu, kembali sayatan demi sayatan kau torehkan tanpa iba di sanubari, tahukah kucari selalu permintaanmu dalam ingatanku merah muda dan biru menyatu dalam siluet tubuhmu, aku kembali dalam kelu membuncah satu demi satu.;

Biarkanlah nafas ku mengejar impian semu menapaki lorong lorong tempat kita menyatu dalam tangis dan tawamu, karena aku tidak pernah melangkahkan mataku, tetapi berpaling menyetubuhi nafas dan teriakan nikmat mu, aku tahu itu adalah semu biarlah darahku menyatu satu; daun daun bergoyang menyanyikan ritme membuka fajar menyeberangi hembusan bayu memukau semburat mata dewa, aku melangkah mengejar langit memuja bumi mencium ujung kaki Mu: aku mengadu, aku kembali meneteskan air hujan kerinduan, kini aku meninggalkan mimpiku bersamamu: tak pernah puas kureguk anggur yang memabukkan diriku, langkah menoreh sejarah hari ini, kau selalu dalam sukmaku;.

dibatas kota ini aku terpekur menatap tetes demi tetes hujan meratapi lengkungan ceruk bumi, dingin menyusupi kulit memanggut tulangku, celoteh membahana dilangit membahana, tahukah kamu aku merasakan sunyi dalam keramaian; kabut semakin menutupi jarak pandang dan kebun kebun teh berubah dari hijau menjadi putih dan akhirnya aku tak dapat memandangnya lagi, aku merindukan tempat ini dimana akhir minggu kita selalu bersama menikmati, tahukah kamu aku membawa langkahku tak berarah, karena pada saat ini petang menjelang mengundangku kedalam mimpiku bersama mu kembali;

terhenyak dari mimpi yang panjang, aku termangu dengan meleleh lilin kehidupanku, kutunggu ajal tak kunjung di belokan tajam, kupacu deru menyatu dalam putaran waktu, aku terus mencari pusara rindu di kaki Mu, hamparan putih merona merah siluet memacu cinta durjana, nikmati setitik hitam diantara hidung dan bibir merekahmu, rinduku menjadi gambaran ketujuh yang kau berikan dalam waktu, membuncah membuncahlah rindu demi rindu, menyatulah aku membutuhkanmu, datanglah kembali dengan cintamu;

kupu-kupu masih berterbangan, daun tersayat bersama angin , langkah menjadi kaku, ranting kering menata hari, tertanam rindu ceruk hati, kupu-kupu masih berterbangan, melukis matahati kebaikan daun tersayat bersama angin, kupu-kupu masih berterbangan, melukis matahati kejujuran, daun tersayat bersama angin kupu-kupu masih, berterbangan ... Lihat Selengkapnyamelukis matahati ketulusan hati,daun tersayat bersama angin , kupu-kupu masih berterbangan, daun tersayat bersama angin, melukis matahati kelabu, menghunus jantung nisan, meruntuhkan sayap bumi;

keringkan tanah berpijak,hilang rimbun pohon yang tumbuh, tinggalkan tonggak usang ; aku tahu bunga dipelukan telah terbang menerjang badai ; aku terus termenung memujamu di pinggiran sungai memegang elusan suteramu di lilitan selendang yang kau hamburkan, aku selalu menunggumu kembali, aku terus berjuang melawan angin, berseteru dengan badai yang kian membentang ; kau biarkan aku merasakan dahaga. dalam mengenal cinta itu. seandainya benar aku ini. pencinta mu yang sejati. mengapa kau padamkan. api semarak yang ku tiupkan : 10 November 2009 jam 20:22








.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar